30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia

Indonesia menentukan 30 ikon kuliner tradisional Indonesia yang terdiri dari 30 makanan dan minuman khas Indonesia mulai dari makanan pembuka, menu utama, hidangan penutup, hingga kudapan.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Mari Elka Pangestu, di Jakarta, Jumat (14/12), mengatakan, saat ini sudah ada 30 ikon kuliner Indonesia yang disusun oleh para pakar dan praktisi kuliner Indonesia.

Penetapan ikon tersebut diawali dengan mendaftar kekayaan budaya kuliner tradisional yang diwariskan turun-temurun, kemudian diseleksi melalui beberapa kriteria.

Kriteria itu diantaranya bahan mudah diperoleh baik di dalam maupun di luar negeri, dikenal masyarakat luas secara nasional, dan ada pelaku secara profesional yang bukan dari kalangan ibu rumah tangga.

Nantinya, ikon itu akan dilengkapi dengan resep yang dibakukan disertai penjelasan videografis tentang proses pembuatannya untuk tujuan replikasi maupun dokumentasi.

Penentuan 30 ikon kuliner tradisional Indonesia itu tidak dikaitkan dengan paten, trademark, maupun copyright. Menteri pun menyadari penentuan 30 ikon kuliner tradisional Indonesia saat inibelum sepenuhnya mewakili “kayanya” budaya kuliner tradisional yang berkembang di seluruh pelosok Tanah Air. Salah satunya kuliner dari pulau Kalimantan dan wilayah timur Indonesia tidak masuk dalam ikon kuliner saat itu. Tentu saja bisa dikatakan bukan ikon kuliner tradisional “Indonesia”.

Namun, di luar itu semua keterwakilan 30 ikon tersebut menggunakan “Nasi Tumpeng” sebagai “ujung tombak” kuliner Nusantara dengan pertimbangan memiliki dasar filosofis Indonesia yang kuat serta mempresentasikan budaya makan orang Indonesia, visualisasi atraktif dari segi tampilan dan rasa, dan dapat dijadikan sebagai menu wajib restoran Indonesia di luar negeri.

Selain itu, mudah dalam membangun cerita (hype) tentang masakan itu dan mudah dikombinasikan dengan ikon kuliner lainnya. Ikon kuliner terpilih itu antara lain, Rendang Padang, Es Bir Pletok Jakarta, Kunyit Asam Solo, Asam Padeh Ikan Tongkol Padang, Ayam Goreng Lengkuas Bandung, Sayur Kapau, Pindang Patin Palembang, Nasi Kuning Yogyakarta, dan Nasi Goreng Kampung.

Selain itu, Es Dawet Banjarnegara, Klappertaart Manado, Kolak Pisang Ubi Bandung, Serabi Bandung, Ayam Panggang Bumbu Rujak, Kue Lumpur Jakarta, Nagasari Yogyakarta, Satai Ayam Madura, Satai Maranggi Purwakarta, dan Satai Lilit Bali.

Selanjutnya, Nasi Liwet Solo, Lumpia Semarang, Urap Sayuran Yogyakarta, Gudeng Yogyakarta, Gado-gado Jakarta, Asinan Jakarta, Rawon Surabaya, Soto Ayam Lamongan, Bakso, Laksa Bogor, dan Sarikayo Minangkabau.

Lowongan Kerja Hotel Selyca Mulia Samarinda (semua posisi)

Segera dibuka di tahun 2013, Kerja Hotel Selyca Mulia Samarinda, Kalimantan Timur.
Membutuhkan tenaga-tenagaprofesional dan mempunyai motivasi tinggi untuk menempati semua posisi yang kami butuhkan :

Accounting :
EDP Manager
General Cashier & AR
Cost Control
Credit Admin & AR
Income Auditor
Purchasing
Strorekeeper
Cashier

Front Office :
Duty Manager
FDA Supervisor
GRO
FDA
Bell Captain
Bell Boy
Driver

Housekeeping :
HK Supervisor
Room Attendant
Linen/Florist
Swimming pool & S. Club

Attendant:
Houseman
Gardener
Laundry Supervisor
Laundry Attendant

Food & Beverage :
F&B Service Supervisor
F&B Admin
Waiter/ss
Senior Cook
Cook

Marketing :
Sales Executive
Promotion Officer
MKT Admin

Human Resources:
Personal Officer

Engineering :
Ast. Chief Engineering
Electric Supervisor
Mechanic Supervisor
Electrican
Mechanic

Persyaratan :
1. Pria/wanita dengan usia maksimal 35 tahun.
2. Pendidikan minimal SMK/Akademi Perhotelan.
3. Berpenampilan menarik dan tinggi badan proposional.
4. Mampu berkomunikasi aktif.
5. Mampu bekerja dengan sistem shift.
6. Memiliki pengalaman dibidangnya (diutamakan).
7. Tidak cacat fisik.

Kirim lamaran beserta Curriculum Vitae dengan foto terbaru ke :

maxgahara@yahoo.com
CC ke
imam.bagong@yahoo.com
atau
Pre ManajemenHotel Selyca Mulia Samarinda
d/a Plaza Mulia Jl. Bhayangkara No. 58 Samarinda, Kalimantan Timur

Hotel Selyca Mulia Samarinda. Immediate opening in 2013, Hotel Selyca Mulia Samarinda, East Kalimantan. Require professional personnel and high motivation to occupy positions that we need:

Executive Secretary
Samarinda (Kalimantan Timur)

Requirements:

Candidate must possess at least a Diploma, Bachelor’s Degree, Secretarial or equivalent.
At least 1 year(s) of working experience in the related field is required for this position.
Preferably Staff (non-management & non-supervisor)s specializing in Secretarial/Executive & Personal Assistant or equivalent.
Full-Time position(s) available.

Sales and Marketing Manager
Samarinda (Kalimantan Timur)

Requirements:

Candidate must possess at least a Bachelor’s Degree, Master’s Degree / Post Graduate Degree, any field.
At least 3 year(s) of working experience in the related field is required for this position.
Preferably Manager / Assistant Managers specializing in Sales – Corporate, Marketing/Business Development or equivalent.
Full-Time position(s) available.

Executive Chef
Samarinda (Kalimantan Timur)

Requirements:

Candidate must possess at least a Diploma, Bachelor’s Degree, Food & Beverage Services Management, Hospitality/Tourism/Hotel Management or equivalent.
At least 1 year(s) of working experience in the related field is required for this position.
Preferably Staff (non-management & non-supervisor)s specializing in Food/Beverage/Restaurant Service or equivalent.
Full-Time position(s) available.

Executive housekeeper
Samarinda (Kalimantan Timur)

Requirements:

Candidate must possess at least a Bachelor’s Degree, any field.
At least 2 year(s) of working experience in the related field is required for this position.
Preferably Supervisor / Coordinators specializing in Hotel Management/Tourism Services, Food/Beverage/Restaurant Service or equivalent.
Full-Time position(s) available.

Front Office Manager
Samarinda (Kalimantan Timur)

Requirements:

Candidate must possess at least a Diploma, Bachelor’s Degree, Hospitality/Tourism/Hotel Management or equivalent.
At least 3 year(s) of working experience in the related field is required for this position.
Preferably Manager / Assistant Managers specializing in Hotel Management/Tourism Services or equivalent.
Full-Time position(s) available.

Food and Beverage Manager
Samarinda (Kalimantan Timur)

Requirements:

Candidate must possess at least a Bachelor’s Degree, Hospitality/Tourism/Hotel Management or equivalent.
At least 5 year(s) of working experience in the related field is required for this position.
Preferably Manager / Assistant Managers specializing in Food/Beverage/Restaurant Service, Hotel Management/Tourism Services or equivalent.
Full-Time position(s) available.

Chief Accounting
Samarinda (Kalimantan Timur)

Requirements:

Candidate must possess at least a Bachelor’s Degree, Finance/Accountancy/Banking or equivalent.
At least 3 year(s) of working experience in the related field is required for this position.
Preferably Manager / Assistant Managers specializing in Finance – General/Cost Accounting , Finance – Audit/Taxation or equivalent.
Full-Time position(s) available.

Chief Engineering
Samarinda (Kalimantan Timur)

Requirements:

Candidate must possess at least a Bachelor’s Degree, Master’s Degree / Post Graduate Degree, Engineering (Electrical/Electronic), Engineering (Industrial), Engineering (Mechanical) or equivalent.
At least 2 year(s) of working experience in the related field is required for this position.
Preferably Supervisor / Coordinators specializing in Maintenance/Repair (Facilities & Machinery) or equivalent.
Full-Time position(s) available.

All applicants must submit comprehensive Curriculum Vitae with a recent photo to :
maxgahara@yahoo.comcc. to
imam.bagong@yahoo.com
or :
Imam Tamzis (Human Resources Manager)
Pre Management Hotel Selyca Mulia Samarinda
d/a Orchid Room, Third Floor,
Wisma Harapan Kita Bidakara
Komplek Gedung Jantung Harapan Kita
Jl. Letjen S. Parman Kav.87, Slipi – Jakarta 11420

MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) sebagai Dokumen Perencanaan Transformasi Ekonomi Indonesia yang terdiri dari : 1. Bagian dari upaya untuk menjadi negara, terbesar ke-12 di dunia pada tahun 2025 dengan PDB USD 3,8 – 4,5 T dan pendapatan perkapita USD 13.000 – 16.000, melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi rata-rata 7-9% per tahun; 2. Dokumen strategi pengembangan sektoral dengan mempertimbangkan faktor spasial berbasis keunggulan Sumberdaya Lokal (Comparative Advantage); 3.  Dokumen dengan proses penyusunan yang partisipatif dengan intensitas dan kualitas pelibatan berbagai pihak yang tinggi; 4.  Mengidentifikasi secara jelas program yang akan dilakukan, besaran investasi yang dibutuhkan, termasuk kendala investasi dan pemecahannya dalam upaya peningkatan daya saing ekonomi (Competitive Advantage).
Hal ini diungkapkan oleh H.M.Yadi Sabianoor, Kepala BPPMD Provinsi Kalimantan Timur saat memberikan pemaparan pada acara Seminar Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) antara Asia dan Indonesia akan dilaksanakan pada hari Selasa, 11/10/11 di Hotel Aston, Jl. Jenderal Sudirman Balikpapan.
Peserta seminar strategis Asia-Indonesia berjumlah kurang lebih 40 orang yang terdiri dari Provinsi Kalimantan Timur, Provinsi Kalsel, Provinsi Kalteng, dan Provinsi Kalbar, serta Pemerintah Pusat, akademisi dari masing-masing provinsi di Kalimantan, pengusaha/swasta, baik lokal maupun pengusaha bertaraf internasional, LSM/NGO baik lokal maupun asing.
Sementara peserta dari BAPPEDA Provinsi Kalimantan Timur dihadiri oleh Kepala sub Bidang SDA dan Lingkungan Hidup, Ir.Ujang Rachmad,M.Si Bidang Ekonomi dan staf  Duma Mangalle,SE serta Sukandar,S.Sos Humas BAPPEDA Kaltim.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam pemaparan oleh H.M. Yadi Sobianoor adalah Program dan Kegiatan Ekonomi Utama Dalam MP3EI ada 8 program utama yaitu :  1. Pertanian, 2. Pertambangan, 3. Energi, 4. Industri; 5. Kelautan; 6. Pariwisata; 7. Telematika; 8. Pengembangan Kawasan Strategis.
Potret Perekonomian Koridor Ekonomi Kalimantan yaitu : 1. Produksi sektor migas menurun dari tahun ke tahun, sehingga perlu pengembangan sektor-sektor lain; 2. Disparitas Pembangunan antar wilayah, baik penghasil migas dan non penghasil migas maupun kawasan perkotaan dan perdesaan; 3. Rendahnya realisasi investasi pembangunan di Koridor Ekonomi Kalimantan; 4. Kesenjangan infrastruktur dasar yang tersedia dan yang dibutuhkan.
Kegiatan Ekonomi Utama di Koridor Ekonomi Kalimantan terdir dari beberapa sektor yaitu :
Sektor Migas mengalami trend penurunan; 2. Eksplorasi Migas akan mengarah pada wilayah yang medannya sulit dan membutuhkan biaya yang sangat mahal; 3. Lokus kegiatan migas tahun 2011-2015 direncanakan di Balikpapan, Blok Delta Mahakam, Rapak dan Ganal (peningkatan kapasitas produksi dan eksplorasi laut dalam).
Sektor batu bara antara lain :  1. Sumberdaya batubara Kalimantan sebesar 51,9 Milliar Ton atau 49,6% sumberdaya batubara Indonesia; 2. Sumberdaya Batubara di Kalimantan Timur sebesar 37,5 Milliar Ton atau 35,7% sumberdaya batubara di Indonesia; 3. Lokasi tambang batubara semakin ke inland, sehingga memerlukan jaringan/investasi bidang transportasi.
Sektor kelapa sawit antara lain : 1. Kontribusi produksi Kelapa Sawit mencapai 80%, dan luas areal mencapai 53% dari total areal perkebunan di Kalimantan; 2. Target pada peningkatan produktifitas, dikarenakan isu lingkungan, produktifitas Malaysia 4,7 ton/ha; 3. Secara bertahap ekspor CPO akan dikurangi, dan fokus pada Produk Intermediate dan Hilir; 4. Lokus Utama di Kalimantan Timur berada di Maloy, Kutai Timur (Inpres 1 Tahun 2010).
Sektor besi baja antara lain : 1. 84 persen cadangan besi baja primer dan 29 persen cadangan bijih besi laterit  Indonesia terdapat di Kalimantan; 2. Kegiatan ekonomi utama besi baja di Kalimantan, terdapat di Kalimantan Tengah (Kotawaringin Barat) danKalimantan Selatan (Batulicin, Tanah Bumbu, dan Tanah Laut).

Sektor perkayuan : 1. Pulau Kalimantan merupakan salah satu paru-paru utama dunia; 2. Kalimantan mempunyai luas hutan 41 juta ha, dimana 29,8 juta ha merupakan hutan produksi; 3.  Luas hutan produksi yang sudah dimanfatkan sebesar 15,7 juta ha (52,7%).

Dampak MP3EI bagi Pembangunan Daerah dan Sektor Swasta (Studi Kasus Kalimantan Timur) antara lain Isu Strategis Pembangunan 2009 – 2013 yaitu :  1. Kemandirian dan Kedaulatan Pangan; 2. Pengentasan Kemiskinan; 3. Pengangguran; 4. Keterbatasan Akses Permodalan; 5. Reformasi Birokrasi/Pelayanan Publik; 6. Degradasi Mutu Lingkungan; 7. Daya Saing dan Iklim Investasi; 8. Pendidikan dan Pelayanan Kesehatan; 9. Infrastruktur; 10. Pembangunan Perbatasan, Pedalaman dan Daerah Tertinggal.

Program Prioritas Pembangunan Tahun 2012 yaitu : 1. Legalisasi RTRWP Kaltim dan Peraturan Zonasi; 2. Peningkatan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim; 3. Pembangunan Infrastruktur; 4. Revitalisasi/Peningkatan daya listrik/ pengembangan energi alternative; 5. Percepatan Pengentasan Kemiskinan; 6. Peningkatan dan Perluasan kesempatan kerja; 7. Ketahanan dan Kemandirian pangan; 8. Pembangunan Kawasan perbatasan, pedalaman dan daerah tertinggal; 9. Peningkatan Mutu/kualitas pendidikan; 10. Peningkatan Mutu pelayanan kesehatan; 11. Peningkatan daya saing dan investasi; 12. Reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan.

Keselarasan kebijakan MP3EI Kalimantan dengan program pembangunan Prioritas Kalimantan Timur tahun 2012 yaitu Kebijakan dalam MP3EI yaitu 1. Menyiapkan kontrak bagi hasil yang lebih menarik bagi perusahaan migas; 2. Menyederhanakan regulasi dibidang minyak dan gas; 3. Perumusan mekanisme insentif pajak yang menarik dan menghindari timbulnya economic high cost; 4. Pengembangan jaringan rel kereta api khusus batubara dan atau pemanfaatan sungai; 5.  Peningkatan dan penambahan kapasitas pelabuhan; 6. Peningkatan kualitas infrastruktur untuk mendukung  distribusi dan logistik migas; 7. Percepatan Penyelesaian RTRW Provinsi dan Kabupaten/Kota; 8. Perbaikan regulasi terkait  administrasi pertanahan dan sengketa pemanfaatan ruang.

Program prioritas tahun 2012 antara lain : 1. Peningkatan Daya Saing dan Investasi; 2. Pembangunan Infrastruktur; 3. Legalisasi RTRWP Kaltim dan Peraturan Zonasi.

Langkah Tindak Lanjut MP3EI antara lain : 1. Sebagai Rencana Induk, MP3EI perlu ditransformasikan kedalam dokumen yang lebih operasional. Oleh karena itu  Rencana Aksi dalam rangka debottlenecking regulasi, perijinan perlu segera diselesaikan dan diimplementasikan; 2. Rencana Investasi dalam dokumen MP3EI fase I (2011-2015) dengan fokus “ Implementasi Quick Wins” harus dikawal dan dilaksanakan sesuai jadwal pelaksanaan yang telah direncanakan, terutama rencana pembangunan Infrastruktur yang sangat berpengaruh dalam efisiensi biaya produksi; 3. Perlu dilakukan inventarisasi dan kristalisasi rencana investasi maupun cakupan wilayah MP3EI untuk fase selanjutnya yakni Fase 2 (2015-2020) yang mempunyai fokus untuk “Memperkuat Basis Ekonomi dan Investasi”, serta Fase 3 (2020-2025) dengan fokus “Melaksanakan Pembangunan Berkelanjutan”. Hal ini sesuai dengan data yang disampaikan dalam pemaparan Kepala BPPMD Kalimantan Timur, H.M. Yadi Sabianoor.

Secara terpisah Gubernur Kalimantan Timur, DR.H.Awang Faroek Ishak bersama Kepala BAPPEDA Provinsi Kalimantan Timur, DR.Ir.H. Rusmadi.MS pada hari sama juga mengadakan pertemuan dengan Menteri Pertanian Kabinet Indonesia Bersatu II, Suswono di Jakarta dalam rangka pertemuan  koordinasi MP3EI koridor Kalimantan.

Dalam pertemuan tersebut disampaikan juga progres implementasi MP3EI oleh setiap ketua sub tim Regulasi, Konektifitas/infrastruktur dan sub tim SDM dan Iptek. Selanjutnya secara lebih rinci, setiap Gubernur di Kalimantan menyampaikan hal terkait progres MP3EI bahkan termasuk usulan project MP3EI.

Sementara dalam pemaparan Gubernur Kalimantan Timur menyampaikan hal-hal terkait progres MP3EI, terutama berkaitan dengan kondisi eksisting progres yang telah dicapai, dan hambatan yang dihadapi serta upaya tindak lanjut.

Sedangkan secara umum kendala yang masih dihadapi adalah pada area yang kewenangannya bukan pada pemerintah provinsi, terutama berkaitan dengan tata ruang, perundangan pertanahan, dan perlakuan khusus bagi wilayah perbatasan dan perundangan lainnya.

Secara khusus Gubernur Kalimantan Timur menyampaikan keinginannya dalam participating interest pengolahan migas di blok Mahakam, Muara Rapak dan Ganal, sserta participating interest di blok gas methana batubara di Bontang, Kukar dan Balikpapan.

Sementara dalam pengarahan Menteri Perumahan Rakyat, Suharso Manoarfa menyampaikan, selain merubah kebijakan, perlu juga dirumuskan kebijakan baru yang diyakini dapat mempercepat pelaksanaan MP3EI.

Dalam rangka percepatan dan mempermudah koordinasi MP3EI Koridor Kalimantan telah dibuat milis dan website MP3EI sehingga diharapkan rencana pemantauan program MP3EI Kalimantan yang akan dilakukan setiap 2 minggu dapat terlaksana dengan baik. (Sukandar,S.Sos/Humas BAPPEDA Kaltim).

Tahukah kalian beberapa waktu lalu Presiden melakukan perubahan atau reshuffle pada Kabinetnya, ada 2 perubahan nama kementrian yang paling mencolok diantaranya adalah Kementrian Pendidikan yang berubah nama menjadi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementrian Pariwisata dan Kebudayaan yang berubah nama menjadi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Mengapa Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ? Industri kreatif dipandang semakin penting dalam mendukung kesejahteraan dalam perekonomian, berbagai pihak berpendapat bahwa “kreativitas manusia adalah sumber daya ekonomi utama” dan bahwa “industri abad kedua puluh satu akan tergantung pada produksi pengetahuan melalui kreativitas dan inovasi. Ekonomi kreatif atau Industri Kreatif dapat diartikan sebagai kumpulan aktivitas ekonomi yang terkait dengan penciptaan atau penggunaan pengetahuan dan informasi. Industri kreatif juga dikenal dengan nama lain Industri Budaya (terutama di Eropa atau juga Ekonomi Kreatif).
Berbagai pihak memberikan definisi yang berbeda-beda mengenai kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam industri kreatif. Bahkan penamaannya sendiri pun menjadi isu yang diperdebatkan dengan adanya perbedaan yang signifikan sekaligus tumpang tindih antara istilah industri kreatif, industri budaya, dan ekonomi kreatif.
Sedangkan Kementerian Perdagangan Indonesia menyatakan bahwa Industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.
Hal ini terlah tertuang dalam Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif 2009-2015 dengan misi “Memberdayakan Sumber Daya Insani Indonesia Sebagai Modal Utama Pembangunan Nasional” yang digalakan oleh Kementrian Perdagangan.
 
Industri kreatif mulai masuk dan dilirik di Indonesia sekitar tahun 2006. Pada saat itu, Menteri Perdagangan RI, Dr Mari Elka Pangestu meluncurkan program “Indonesia Design Power” di jajaran Departemen Perdagangan RI, suatu program pemerintah yang diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk-produk Indonesia dipasar domestik maupun ekspor. Presiden RI pada pidatonya pada pembukaaan Pameran Pekan Budaya Indonesia saat itu juga tengah bersiap-siap menyambut era Ekonomi Kreatif ini, yang Beliau sebut sebagai ekonomi gelombang ke-4. Indonesia Design Power adalah sebuah rangkaian progam yang diinisiasi oleh Departemen Perdagangan RI yang berupaya meningkatkan peranan desain maupun indutstri-industri kreatif lainnya agar lebih banyak didaya upayakan didalam perekonomian nasional. Berupaya mengangkat Ekonomi Kreatif (Creative Economy) kedalam wacana pembangunan nasional. Saat itu terdapat 15 kategori bidang kreatif yang masuk kedalam Creative Ekonomi yang akan diangkat ke permukaan. Bermacam Intelektual Exercises telah dicoba dilakukan sejak awal 2006 oleh Pemerintah, khususnya Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian, Kementerian Koperasi & UKM, dan juga Kadin. Diawali dengan Seminar dan Lokakarya bulan Juli di Jakarta, dilanjutkan dengan upaya revitalisasi Pameran Produk Export (PPE), Program IDP telah diusulkan sebagai agenda dari 2 Departemen dan 1 Kementerian dan akan meluncur hingga 2010.
 
Ekonomi kreatif di Indonesia akan tumbuh dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi kedepan. Masa depan perekonomian tidak bisa hanya mengandalkan ekonomi pertanian, industri, dan jasa konvensional. Selama ini ketiga hal tersebut menjadi tulang punggung perekonomian kita. Pada tahun 2009 yang lalu saat itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara Pekan Produk Kreatif Indonesia 2009 , di Assembly Hall Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Jumat (26/6/2009) mengatakan, “industri kreatif akan berkembang di negara tercinta Indonesia. Industri ini menjadi salah satu masa depan perekonomian.” Kemudian dibeberapa pidatonya muncul kalimat berikut, “Namun, perlu juga menjadi perhatian utama untuk dikembangkan dua ekonomi lainnya. Yakni, ekonomi pariwisata dan ekonomi kreatif,” hal ini menjelaskan bahwa sejak 2009 Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sudah diwacanakan untuk bersinergi menjadi satu.
 
(REVISI KE-2, diolah dari berbagai sumber)
BERSAMBUNG…
Ditunggu ya…

It’s all about Borneo !
Tagline di atas cukup beralasan untuk artikel dibawah ini yang membahas Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2012 serta ditetapkan pada tanggal 5 Januari 2012 yang lalu. Pulau Kalimantan yang juga berfungsi sebagai penyumbang oksigen dunia maka cukup beralasan pemerintah melalui Presiden untuk mengatur tata ruang Pulau Kalimantan sebagai paru-paru dunia.
Berikut catatan mengenai Perpres tersebut secara Garis Besarnya. Semoga informasi berikut bermanfaat bagi kita semua khususnya yang tinggal di Pulau Kalimantan.

Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tanggal 5 Januari 2012 lalu, telah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan. Dalam Perpres ini, pemerintah menegaskan bahwa untuk kelestarian kawasan konservasi keanekaragaman hayati dan kawasan berfungsi lindung yang bervegetasi hutan tropis basah paling sedikt 45% dari luas Pulau Kalimantan sebagai paru-paru dunia.
Selebihnya penataan Tata Ruang Pulau Kalimantan diantaranya untuk :
Mewujudkan kemandirian energi dan lumbung energi Nasional untuk tenaga listrik;
Pusat pertambangan mineral, batubara, serta minyak dan gas bumi;
Pusat perkebunan kelapa sawit, karet dan hasil hutan secara berkelanjutan;
Kawasan beranda negara sebagai beranda depan dan pintu gerbang negara yang berbatasan dengan Malaysia;
Pusat pengembangan kawasan perkotaan Nasional yang berbasis pada air;
Kawasan ekowisata berbasis hutan tropis dan wisata budaya Kalimantan;
Jaringan transportasi antarmoda; dan
Swasembada pangan dan lumbung pangan Nasional.

Terkait dengan rencana menyediakan 45% luas Pulau Kalimantan sebagai paru-paru dunia itu, Perpres No. 3 Tahun 2012 mengatur tentang kebijakan yang akan dilakukan pemerintah, yang meliputi:
a. Pelestarian kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati tumbuhan dan satwa endemik kawasan;
b. Pengembangan koridor ekosistem antarkawasan konservasi;
c. pemantapan kawasan berfungsi lindung dan rehabilitasi kawasan berfungsi lindung yang terdegradasi; dan
d. pengendalian kegiatan budi daya yang berpotensi mengganggu kawasan berfungsi lindung.

Dalam Perpres itu juga disebutkan, bahwa guna pengembangan energi baru dan terbarukan, serta pengembangan interkoneksi jaringan transmisi tenaga listrik, pemerintah akan mengembangkan pembangkit listrik berbasis energi baru berupa :
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU),
Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG),
Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU),
Pembangkit Listrik Tenaga Mesin (PLTMG), dan
Pembangkit Listrik Tenaga Gas Batubara (PLTGB).

Selain itu, di kawasan Pulau Kalimantan itu pemerintah akan mengembangkan Pembangkit Listrik berbasis :
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA),
Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM),
Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), dan
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Sementara untuk mempertahankan eksistensi 4 (empat) pulau kecil terluar yang meliputi :
Pulau Sebatik,
Pulau Gosong Makassar,
Pulau Maratua, dan
Pulau Sambit.
Sebagai titik garis pangkal kepulauan Indonesia, Perpres tersbeut menegaskan, bahwa pemerintah akan membangun mercusuar dan infrastruktur penanda pulau-pulau itu. Pemerintah juga akan mengembangkan prasarana dan sarana tranportasi penyeberangan untuk meningkatkan akses dari dan ke Pulau Sebatik, Pulau Maratua, dan Pulau Sambit, mengembangkan jaringan telekomunikasi untuk memenuhi kebutuhan komunikasi di pulau-pulau itu, serta mengembangkan PLTB dan PLTS.

Adapun untuk mewujudkan kawasan ekowisata berbasis hutan tropis basah dan wisata budaya, pemerintah akan mengembangkan kawasan ekowisata berbasis ekosistem kehidupan orang utan, bekantan, meranti, anggrek, serta satwa dan tumbuhan endemik kawasan lainnya, dan mengembangkan kawasan wisata berbasis budaya Kalimantan.

Perpres No. 3 Tahun 2012 itu juga mengatur tentang penetapan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yang ditetapkan menjadi 2 (dua) industri , yaitu :
Pusat Industri Hilir Pengolahan hasil pertambangan mineral, batubara, serta minyak dan gas bumi di Balikpapan-Tenggarong-Samarinda-Bontang dan Tarakan, dan
Pusat Industri Pengolahan hasil pertambangan mineral, batubara, serta minyak dan gas bumi di Muara Teweh, Tanjung Redeb, Sangata, Nunukan, Tanjung Selor, Malinau dan Tanah Grogot.

Mengenai strategi operasional perwujudan sistem jaringan transportasi nasional, Perpres No. 3 /2012 itu menyebutkan bahwa pemerintah akan melakukukan pengembangan sistem jaringan transportasi diantaranya :
Mengembangkan jaringan jalan strategis untuk meningkatkan aksestabilitas di kawasan perbatasan negara yang berbatasan dengan Malaysia,
Mengembankan jaringan jalan nasional yang menghubungkan perkotaan nasional sebagai pusat pertumbuhan dengan pelabuhan dan bandar udara,
Mengembangkan jaringan jalan bebas hambatan, dan
Mengembangkan jaringan jalan nasional yang terpadu dengan jaringan jalur kereta api, pelabuhan, bandar udara, dan transportasi sungai.
“Pengambangan jaringan jalan strategis nasional yang berbatasan dengan Malaysia dilakukan pada Jaringan Jalan Lintas Utara Pulau Kalimantan yang menghubungkan Temajuk – Aruk – Jagoibabang – Entikong – Jasa – Nanga Badau – Putussibau – Long Pahangai – Long Nawang – Malinau – dan Long Midang,” bunyi Pasal 19 ayat 3 Perpres No. 3/2012.
Adapun jalan bebas hambatan yang akan dibangun di Pulau Kalimantan meliputi:
Banjarmasin – Liang Anggang;
Simpang Penajam – Balikpapan;
Balikpapan – Samarinda;
Samarindan – Tenggarong;
Sei Pinyuh – Pontianak;
Pontianak – Tayan;
Liang Anggang – Pelaihari;
Singkawang – Mempawah;
Mempawah – Sei Pinyuh;
Kuala Kapuas – Banjarmasin;
Marabahan – Banjarmasin;
Liang Anggang – Martapura;
Pelaihari – Pagatan;
Pagatan – Batulicin;
Batulicin – Tanah Grogot (Kuaro);
Tanah Grogot – Penajam;
Samarinda – Bontang; dan
Bontang – Sangata.

It’s all about Borneo !

Dikutip langsung dari
Judul “Despro, Bukan Hanya Seni!”

Kata-kata seni memang sepertinya sudah sangat melekat pada image mahasiswa Jurusan Desain Produk Industri (Despro). Berambut gondrong dengan pakaian yang serampangan pun seolah menjadi sebuah ciri khas. Beberapa bahkan beranggapan Jurusan Despro bukanlah sebuah jurusan teknik.

Memang, di Despro saya tidak belajar rumus kalkulus, aljabar, dan sebagainya. Namun, menurut saya, kami bukanlah sekumpulan seniman. Kami adalah calon-calon desainer muda Indonesia.

Mungkin orang-orang awam sering beranggapan, seni dan desain adalah sama. Dan memang seniman dan desainer sama-sama bergelut dengan ranak artistik. Namun, tetap saja, seni dan desain memiliki arti yang jauh berbeda satu sama lain.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu dilihat dari segi kehalusan, keindahan, dan sebagainya. Sedangkan desain adalah kerangka bentuk atau rancangan.

Salah satu dosen di jurusan saya berpendapat, perbedaan seni dan desain sangat jelas. Dalam berkarya, seorang seniman mengekspresikan imajinasi pribadinya. Seniman tidak begitu mementingkan apresiasi masyarakat umum terhadap karyanya.

Sebagai gampangnya, ia membuat sesuatu untuk kesenangan dan kepuasan diri sendiri. Apapun kata orang, selama seniman itu puas, tak akan jadi masalah.

Sedangkan seorang desainer membuat suatu karya yang dibutuhkan oleh masyarakat. Karenyanya, ia sangat membutuhkan apresiasi dari masyarakat umum. Desainer pun tidak dapat asal mendesain.

Pada dasarnya, desain adalah sebuat pemecahan dari masalah yang ada. Untuk itulah, para desainer menciptakan inovasi-inovasi baru dalam setiap karyanya.

Seperti orang-orang teknik lainnya, seorang desainer juga perlu melakukan riset yang berkaitan dengan apa yang akan ia desain. Tujuannya, agar karya yang dihasilkan tepat sasaran.

Jauh berbeda dengan jurusan berbasis seni, Despro tidak hanya mementingkan keindahan. Percuma saja mendesain sesuatu yang sangat indah tapi tidak berfungsi. Jika telah memiliki fungsi pun, tidak akan mempunyai nilai jual jika tidak indah.

Dosen-dosen Despro pun sampai sekarang masih sering memberikan pengertian pada kami. Dalam desain, ada benar dan salah. Jadi, jangan heran kalau ada nilai yang bagus dan ada nilai yang jelek.

Di Despro, saya memang tidak terlalu banyak mempelajari hitungan. Tapi bukan berarti saya hanya menggambar, mewarnai, dan seterusnya. Di program studi (prodi) yang saya jalani, saya dituntut untuk dapat membuat sebuah produk.

Tidak hanya berhenti pada sketsa desain, tapi saya bertanggung jawab sampai ke proses pembuatan. Walaupun produk yang saya buat tidak benar-benar diproduksi massal, saya tetap harus memikirkan proses produksinya.

Bagaimana nantinya produk tersebut dapat benar-benar dibuat. Bagaimana mekanismenya, apa bahan yang akan digunakan, sejauh mana tingkat kenyamanannya jika digunakan, dan sebagainya.

Jadi, jangan bilang saya bukan mahasiswa teknik, karena saya pun belajar Fisika Mekanika dan Matematika Geometri. Jangan bilang Jurusan Despro bukan jurusan teknik, karena kami pun mempelajari Gambar Teknik dan Fisika Bangunan.

Sejak Awal Sudah Dapat Dijual
Menurut saya pribadi, Despro memiliki kelebihan dibanding jurusan-jurusan lain. Kebanyakan mata kuliah selalu menuntut setiap mahasiswanya untuk menghasilkan karya-karya nyata. Asyiknya, karya-karya yang awalnya hanya sebagai tugas kuliah itu dapat dijadikan pundi-pundi rupiah.

Pada setiap pameran tugas akhir, tak sedikit karya-karya mahasiswa Despro yang ingin dibeli. Pameran Play! oleh mahasiswa angkatan 2009 prodi Desain Produk, misalnya.

Mengambil tema sepeda untuk anak-anak, pameran yang berlokasi di Balai Pemuda pada 2011 ini ramai didatangai masyarakat umum. Tak sedikit dari mereka yang ingin memiliki sepeda yang dipamerkan disana.

Pameran Duduk oleh prodi Desain Interior pun demikian. Meski masih berlokasi di kawasan kampus ITS, pameran ini berhasil menyita banyak pengunjung yang berdecak kagum menyaksikan desain-desain kursi yang tidak biasa. Lagi-lagi, tak sedikit pengunjung yang tertarik untuk membeli hasil karya mereka.

Sejak semester awal pun, apa yang diajarkan oleh para dosen Despro sebenarnya sudah dapat dijual. Sketsa still life, misalnya. Beberapa teman, bahkan saya sendiri kerap mendapat pesanan untuk menggambar wajah orang. Entah untuk kado, atau untuk koleksi pribadi mereka.

Sebenarnya, Kita Semua Sama
Saya suka kesal, sering kali mendapati mahasiswa bukan Despro meng-under estimate jurusan saya. Beberapa teman sejurusan pun kerap mengutarakan perasaan yang sama.

”Enak ya, Despro kuliahnya nggambar tok (menggambar saja, Red),” komentar seperti ini sering saya dapatkan, bukan hanya dari mahasiswa ITS, bahkan mahasiswa kampus lain acap kali berpendapat sama.

Sebenarnya, kami sama saja dengan kalian. Harus membaca buku, dikejar-kejar deadline tugas, wajib asistensi, praktikum, dan sebagainya. Hanya saja, dalam konteks yang sedikit berbeda.

Untuk prodi Desain Produk, contohnya. Bukan praktikum dengan cairan-cairan kimia atau mikroskop. Mereka membuat model atau miniatur sebuah produk di Laboratorium Prototype/ Model. Prodi Desain Interior membuat maket, Desain Komunikasi Visual (DKV) membuat poster, dan sebagainya.

Kami juga tidak diperbolehkan menyontek. Seperti halnya mahasiswa pada umumnya, kami diwajibkan bekerja dengan kemampuan sendiri. Saya sendiri bingung, kalaupun mau menyontek, apa yang mau dicontek?

Saya yakin, kita semua pasti ahli pada bidangnya masing-masing. Saya menghargai setiap jurusan dengan semua yang mereka pelajari. Dan saya sadar, seorang desainer pun tidak bisa bekerja sendirian.

Desainer mobil butuh seorang ahli mesin untuk merealisasikan desainnya. Begitupun seorang ahli mesin, pasti membutuhkan seorang desainer untuk mendesain body mobil agar menarik dan memiliki daya jual. Sekarang, apa gunanya saling merendahkan? Nantinya, kita semua juga pasti akan saling membutuhkan.

Penulis:
Feny Puspa Sari
Mahasiswa Jurusan Desain Produk Industri angkatan 2010
Institut Teknologi Surabaya

Karya ilmiah (bahasa Inggris: scientific paper) adalah laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.

 

Ada berbagai jenis karya ilmiah, antara lain laporan penelitian, makalah seminar atau simposium, dan artikel jurnal yang pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan acuan bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya.

Di perguruan tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya ilmiah seperti makalah, laporan praktikum, dan skripsi (tugas akhir). Skripsi umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil, tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu, makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis oleh para pakar dalam bidang persoalan yang dipelajari. Penyusunan laporan praktikum ditugaskan kepada mahasiswa sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan menyusun laporan penelitian.

Sumber :
http://www.karyailmiah.polnes.ac.id/index.php/umum/68-pengertian-karya-ilmiah

Web resmi Hildiktipari
http://www.hildiktipari.org/

Pariwisata Akhirnya Diakui sebagai Ilmu
Pengembangan pariwisata Indonesia selama ini bisa disebut sebagai “tak ada landasan akademis” yang kuat atau dibangun dengan “tanpa ilmu”. Akibatnya, kebijakan pariwisata sudah pasti disetir birokrat yang notabene tak memiliki dasar pengetahuan pariwisata mumpuni.

Dari sisi akademik, ilmu pariwisata di Indonesia baru diakui sebagai satu disiplin ilmu mandiri sejak 31 Maret 2008. Perguruan tinggi lainnya sudah mengajukannya sejak 1980 dan STP Bandung pada tahun 1998 pernah mengajukan S-1 Pariwisata. Tapi waktu itu ditolak karena pariwisata dianggap bukan ilmu mandiri.

Maka, pada 31 Maret 2008 keluarlah surat izin dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional untuk membuka S-1 pariwisata di STP Bandung dan STP Bali. Sekak itu kalangan pelaku pariwisata menganggapnya sebagai sinyal pengakuan dari pemerintah.

Hildiktipari atau Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata Indonesia merupakan wadah komunikasi perguruan tinggi pariwisata. Mereka terus menyosialisasikan ilmu pariwisata sebagai disiplin ilmu mandiri. Dalam situsnya, http://www.hildiktipari.org, diungkapkan EMPAT hal mengapa pariwisata layak menjadi ilmu mandiri.

Pertama, peran penting pariwisata yang meliputi sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan itu, ke depanya akan semakin besar di dunia.
Kedua, dari perspektif filsafat, pariwisata memiliki basis yang kuat sebagai ilmu mandiri karena syarat-syarat ontomologis, epistemologis, dan aksiologis sudah terpenuhi.
Ketiga, pengalaman sejarah menunjukkan kelahiran suatu cabang ilmu yang baru selalu di warnai pro-kontra.
Keempat, untuk mengembangkan pariwisata tak cukup pendidikan vokasional. Disini diperlukan pendidikan yang bersifat akademik dan profesi.

Ilmu pariwisata dirumuskan sebagai “ilmu yang mempelajari teori dan praktik tentang masyarakat yang memfasilitasi perjalanan wisatawan, dan berbagai implikasinya”.

Pariwisata sebagai ilmu mandiri, kata Prof Dr IG Pitana MSc, bukan akhir perjuangan namun awal bagi perjuangan baru. “Seluruh stakeholder pariwisata harus terus membangun opini keilmuan pariwisata serta mengembangkannya dalam berbagai aspek, termasuk publikasi hasil penelitian,” paparnya.

Dikutip dari…
Sumber: Kompas, Jumat, 6 Juni 2008
Rubrik: Teropong>>Pariwisata>Disiplin Ilmu
Dengan Judul: Pariwisata Akhirnya Diakui sebagai Ilmu
Oleh: Amir Sadikin

pullmanindonesia

Jembatan Penyeberangan  Orang (JPO) Balikpapanjpo balikpapan by stareky

“Jenjang karirnya seorang grafik desainer ditentukan dari sejak awal mereka lulus sekolah, portfolio menjadi sangat penting! karena portfolio itu sendiri juga adalah adalah marketing tool kita, portfolio baik selalu dihasilkan oleh keringat dengan idealisme desain yang baik.” Ignatius Hermawan Tanzil

Keyakinan menentukan cita-cita

Ignatius Hermawan Tanzil sejak dini pria kelahiran Bandung ini tengah akrab hidup dengan tinta dan grafis. Ia senang membantu usaha percetakan milik keluarga bahkan memilih untuk tinggal di percetakan. Tahap demi tahap dalam proses mencetak dikuasainya dan telah menjadi kesehariannya. Duduk di bangku SMP St Aloysius, Bandung, jiwa seninya mulai tersalurkan. Mulai dari sastra, desain, fotografi hingga musik semua ia lakukan, tidak heran jika nilai keseniannya diatas rata-rata. Saat SMA, dengan yakin ia memilih jurusan IPS, bukan IPA yang biasanya lebih banyak diminati. Ketika teman-temannya memiliki cita-cita umum seperti insinyur, dokter, pilot, dan sebagainya, anak ketiga dari lima bersaudara ini justru melawan mainstream dengan memilih desainer grafis sebagai cita-citanya, yang saat itu masih langka di Indonesia. Dan keyakinan akan pilihan itu pun dikerjarnya hingga saat ini.

Lulusan California College of the Art ini bekerja di beberapa perusahan yang mempunyai ciri khas yang berbeda. Dari perusahan arsitektural grafis yang menangani signage, brosur-brosur property dan office bulding. Kemudian ia melangkah ke sebuah perusahaan desain publikasi yang spesailisasinya pada desain buku dan majalah corporate. Dan terakhir sebelum kembali ketanah air di Paul Curtin Design (pendiri Eleven Inc.), perusahaan yang menangani branding dan advertising.

Baginya desain adalah sebuah proses belajar oleh sebab itu ia tidak pernah berhenti untuk belajar. “Pada waktu kita kuliah kita belajar dari guru maupun teman-teman kita, pada waktu kerja kita belajar dari atasan atau bos kita juga teman kerja kita, dan yang sering orang lupakan kita juga belajar dari klien-klien kita,” ujarnya. Beliau juga merasa beruntung bisa belajar dari mantan-mantan bos yang memiliki karakteristik yang berbeda, ada yang desainnya lebih architectural, corporate, dan juga art yang secara tidak langsung memperkaya seleranya. Untuk profesi desain tidak sama dengan seni murni menurutnya, jenjang karir merupakan hal sangat penting untuk dilalui oleh seorang desainer, karena ada sebuah proses dalam bekerja yang perlu dipelajari.

Leboye Design

Kata Leboye sendiri diadaptasi dari bahasa Perancis, les bons yeux yang artinya the good eyes. Setibanya di Indonesia, sebelum mendirikan Leboye ia sempat bekerja di sebuah perusahan desain di jakarta. Namun, setelah Ayah dari dua orang anak ini melihat peluang di tahun 90-an ketika perekonomian Indonesia sedang booming, ia menangkap sinyal bahwa akan banyak investor yang masuk dan mendirikan perusahaan di Indonesia, otomatis permintaan pembuatan company profile dan annual report pun menjadi bisnis yang sangat potensial.

Berkantor pertama di kawasan Perdatam Kalibata dengan kondisi yang kurang memadai semua pekerjaan dilakukannya sendiri, meski terkadang dibantu seorang tenaga magang. Dengan berpegang pada idealisme desainnya, kualitas karya yang unik Leboye menjadi selalu diminati. Klien-klien besar kelas lokal dan international pun berdatangan dan mempercayainya hingga menjadi klien tetapnya sampai sekarang.

“Ada pepatah “Good Design is a Good Business“ bagi kami “Great Portfolio is a Great Marketing Tool“. Jika kita membuat suatu karya yang baik maka karya tersebut akan memberikan bisnis yang baik untuk kita,” ujarnya.

Di tahun 1998, Leboye pindah kantor di kawasan Kemang, bangunan bergaya tropis modern karya arsitek ternama, Andra Martin. Jumlah karyawan Leboye yang relatif sedikit – 23 orang, dengan jumlah desainer yang hanya 57 orang, tetap dipertahankan oleh pria pengkoleksi iklan-ikaln lawas itu, karena kunci dibalik kualitas karya Leboye yang outstanding selain dari visi sang owner sendiri juga terletak pada sebuah teamwork yang solid yang ada di belakangnya.

Seorang desainer yang baik tidak bisa hanya sekedar mampu membaca selera pasar, namun juga harus mempunyai idealisme kuat untuk menginspirasi dan mengedukasi klien. Komunikasi yang dibangun untuk memahami keingingan dan karakter klien serta melibatkannya dalam rangkaian proses desain, merupakan kunci kesuksesan LeBoYe, perusahaan yang tidak pernah mengurangi aspek art dalam mendesain sebuah marketing komunikasi.

“Saya percaya bahwa desain adalah seni komersial, namun seni dan kesenian adalah hal yang penting bagi kita manusia yang berbudaya, karena seni membuat kita menjadi lebih hidup, bernilai dan humanis. Tanpa seni, desain grafis tidak lebih dari sebuah sampah marketing,” ungkapnya.

Mendesain dengan Idealisme

Berbicara tentang inspirasi desain seringkali tidak terlepas dari aktivitas sehari-hari, inspirasi bisa datang dari apa saja. Baginya yang terpenting adalah bagaimana seorang desainer sebagai individu selalu ingin belajar, punya rasa keingintahuan yang tinggi serta interest dalam banyak aspek dalam kehidupan, maka otomatis ide itu akan selalu datang mengalir. Wawasan adalah hal yang sangat penting bagi kita seorang grafik desainer.

“Ada batasan antara karya seorang seniman dengan seorang desainer. Seniman berkarya untuk memuaskan dirinya sendiri, dimana karyanya sebagai ajang pengekspresian diri. Sedangkan desainer, dengan karyanya ia harus bisa memuaskan orang lain/ klien, ada target market yang harus dicapainya dalam jangka panjang. Namun, seni juga bukanlah sekedar unsur yang terkandung dalam sebuah karya desain. Lebih dari itu, seni dianggapnya harus mampu membawa manusia menjadi individu-individu yang lebih baik. Pemikiran-pemikiran seperti itu berangkat dari kegemarannya membaca karya sastra filosofis timur sejak usia muda, menjadi acuan berpikir dalam pencarian filosofi desain Hermawan. The end of the day, desain harus bisa mengispirasi banyak orang dan memberi nilai atau value baik,” tegasnya.

Perkembangan desain kedepan

Menanggapi perkembangan dunia desain di Indonesia belakangan ini, tentunya ada sisi positif dan negatif. Hal positifnya adalah dimana sekarang desain sudah menjadi bagian gaya hidup masyarakat dan apresiasi juga sudah jauh lebih baik. Masyarakat sudah mulai mengerti bahwa desain itu memiliki daya jual dan mendatangkan nilai tambah yang tinggi.

Sementara sisi negatifnya adalah, dengan pesatnya perkembangan teknologi, kini desain seolah menjadi sesuatu hal yang mudah dan instan. Banyak orang merasa mampu mendesain hanya dengan mengandalkan software dan template desain. Hermawan melihat pada akhirnya kedepannya desain bukan lagi hanya sekedar kegiatan “menggambar” yang tersirat, melainkan desain merupakan sebuah konsep, hasil riset dari pemikiran mendalam, baik itu makna, sistem maupun filosofi yang terkandung.

Tantangan Desainer Indoensia

Negara yang maju adalah negara yang bisa mengapresiasi budaya mereka sendiri, tapi janganlah kita menyerap atau menelan budaya global begitu saja melainkan bagaimana kita bisa mengemas setiap yang dimiliki dan mengangkatnya ke standar international tanpa menghilangkan karakter atau personaliti kita sebagai manusia Indonesia.

Sebagai contohnya, Hermawan menjelaskan dalam proyeknya mem-branding restoran dikawasan Menteng. Sebelum projek berjalan LeBoYe melakukan riset terlebih dahulu, meninjau lokasi gedung serta meng-interview si pemilik gedung. Ternyata gedung yang bergaya kolonial itu pernah menjadi saksi sejarah sebelum kemerdekaan yang sempat dijadikan tempat pertemuannya Bung Karno. Dari hasil risetnya LeBoYe memberikan sebuah ide nama, “Bungarampai”, yang juga berarti antologi pusparagam. Sesuai dengan brand-nya yang mengambarkan keragaman dalam suatu kesatuan,

Bungarampai menyajikan akan makanan-makanan yang berasal dari seluruh wilayah Nusantara. Kembang yang begitu dekat dengan kita, yang mempunyai tradisi dari lahir, menikah, bahkan meninggal pun dengan kembang. Tentunya kembang pun menjadi tema dari restoran ini. Kata kembang rasanya dekat dengan tembang meskipun artinya berbeda oleh sebab itu ide muncul untuk membuat buku menu yang didesain seperti buku tembang puisi yang mempunyai nada dan sangat puitis. Sesuatu konsep yang sangat sederhana. Kita mencari padupadannya yang ada di nusantara ini menjadi elemen utama dalam desain itu sendiri.

Kesimpulannya adalah desain yang baik adalah desain yang ada dalam diri kita sendiri dia ada dalam diri kita sering kali kita tidak menyadarinya, bukan desian yang dibuat-buat atau mengada-ada. Seandainya banyak desainer yang menyadari dan memberi perhatian lebih terhadap hal ini, niscaya suatu saat identitas desain grafis Indonesia itu akan muncul dengan sendirinya.

Catatan ini dikutip langsung dari portal Indonesia Kreatif dengan sedikit perubahan. Terima Kasih untuk Indonesia Kreatif, semoga menjadi inspirasi untuk kita semua.

MICE, singkatan bahasa Inggris dari “Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition” (Indonesia: Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran), dalam industri pariwisata atau pameran, adalah suatu jenis kegiatan pariwisata di mana suatu kelompok besar, biasanya direncanakan dengan matang, berangkat bersama untuk suatu tujuan tertentu. Akhir-akhir ini telah suatu kecenderungan pada para pelaku pasar pariwisata untuk mengganti istilah ini menjadi ” The Meetings Industry”. Dunia MICE adalah dunia yang belum terjamah dengan baik di Indonesia. Padahal dunia MICE merupakan salah satu andalan pariwisata di beberapa negara maju. Dunia MICE merupakan salah satu dunia bisnis yang menjanjikan. Namun baru sedikit sekali pihak Indonesia yang mau bermain di dunia MICE. Mungkin salah satu penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan tentang MICE di Indonesia. Namun di Indonesia sudah mulai ada lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan tentang MICE. Banyak negara yang sudah menjadikan dunia MICE sebagai salah satu potensi wisatanya.

Seperti Jepang dengan “Tokyo Motor Show”, Jerman dengan “Frankfurt Motor Show”, dan lain sebagainya. Bahkan berbagai biro perjalanan wisata telah membuat paket wisata mengunjungi berbagai event MICE di berbagai belahan dunia. Ini adalah potensi bisnis yang besar. Dunia MICE memiliki multiplier effect yang sangat besar. Sangat banyak lapangan pekerjaan yang tercipta dari adanya event MICE di suatu negara. Puluhan roda industri di dunia akan berputar dengan baik karena ada event MICE. Pihak pihak yang akan mendapat keuntungan dari event MICE antara lain:

Professional Exhibition Organizer (PEO),
Professional Conference Organizer (PCO),
Stan Kontraktor,
Freight Forwarder,
Supplier,
Florist,
Event Organizer,
Hall Owner,
Tenaga kerja musiman,
Percetakan,
Transportasi,
Biro Perjalanan Wisata (BPW),
Agen Perjalanan Wisata (APW),
Hotel,
Perusahaan Souvenir,
UKM,
dan masih sangat banyak lagi.
MICE di Indonesia

Kota-kota MICE di Indonesia antara lain Ayawasi, Jakarta, Denpasar, Jambi, Jayapura, Ujung Pandang, Medan, Manado, Surabaya, Batam, Yogyakarta, Padang.

Perkembangan MICE di Bali sudah mencapai hasil yang cukup menggembirakan. Adanya elemen-elemen pariwisata terkait seperti Dinas Pariwisata Daerah Bali yang juga bekerjasama dengan Bali Hotel Association, INCCA (Indonesia Congress & Convention Association), ASITA, Perhimpunan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI), dan institusi serupa membuat Bali sebagai tujuan MICE di dunia selanjutnya. Hal ini terbukti dengan banyaknya event dunia yang diselenggarakan di Bali seperti UNFCC dan Bali Asian Beach Games yang berlangsung di Nusa Dua, Bali tahun 2008 lalu.

Disamping itu, perkembangan MICE di Bali telah menjamah sektor perhotelah di Bali, dimana hampir semua hotel berbintang 5 di Bali memiliki fasilitas standar meeting seperti meeting venue, dan departemen yang mengatur berlangsungnya kegiatan MICE di hotel tersebut. Biasanya MICE di organiser oleh Banquet Department.

(Wikipedia Indonesia)

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai