Pariwisata Akhirnya Diakui sebagai Ilmu
Pengembangan pariwisata Indonesia selama ini bisa disebut sebagai “tak ada landasan akademis” yang kuat atau dibangun dengan “tanpa ilmu”. Akibatnya, kebijakan pariwisata sudah pasti disetir birokrat yang notabene tak memiliki dasar pengetahuan pariwisata mumpuni.

Dari sisi akademik, ilmu pariwisata di Indonesia baru diakui sebagai satu disiplin ilmu mandiri sejak 31 Maret 2008. Perguruan tinggi lainnya sudah mengajukannya sejak 1980 dan STP Bandung pada tahun 1998 pernah mengajukan S-1 Pariwisata. Tapi waktu itu ditolak karena pariwisata dianggap bukan ilmu mandiri.

Maka, pada 31 Maret 2008 keluarlah surat izin dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional untuk membuka S-1 pariwisata di STP Bandung dan STP Bali. Sekak itu kalangan pelaku pariwisata menganggapnya sebagai sinyal pengakuan dari pemerintah.

Hildiktipari atau Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata Indonesia merupakan wadah komunikasi perguruan tinggi pariwisata. Mereka terus menyosialisasikan ilmu pariwisata sebagai disiplin ilmu mandiri. Dalam situsnya, http://www.hildiktipari.org, diungkapkan EMPAT hal mengapa pariwisata layak menjadi ilmu mandiri.

Pertama, peran penting pariwisata yang meliputi sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan itu, ke depanya akan semakin besar di dunia.
Kedua, dari perspektif filsafat, pariwisata memiliki basis yang kuat sebagai ilmu mandiri karena syarat-syarat ontomologis, epistemologis, dan aksiologis sudah terpenuhi.
Ketiga, pengalaman sejarah menunjukkan kelahiran suatu cabang ilmu yang baru selalu di warnai pro-kontra.
Keempat, untuk mengembangkan pariwisata tak cukup pendidikan vokasional. Disini diperlukan pendidikan yang bersifat akademik dan profesi.

Ilmu pariwisata dirumuskan sebagai “ilmu yang mempelajari teori dan praktik tentang masyarakat yang memfasilitasi perjalanan wisatawan, dan berbagai implikasinya”.

Pariwisata sebagai ilmu mandiri, kata Prof Dr IG Pitana MSc, bukan akhir perjuangan namun awal bagi perjuangan baru. “Seluruh stakeholder pariwisata harus terus membangun opini keilmuan pariwisata serta mengembangkannya dalam berbagai aspek, termasuk publikasi hasil penelitian,” paparnya.

Dikutip dari…
Sumber: Kompas, Jumat, 6 Juni 2008
Rubrik: Teropong>>Pariwisata>Disiplin Ilmu
Dengan Judul: Pariwisata Akhirnya Diakui sebagai Ilmu
Oleh: Amir Sadikin