Dikutip langsung dari
Judul “Despro, Bukan Hanya Seni!”

Kata-kata seni memang sepertinya sudah sangat melekat pada image mahasiswa Jurusan Desain Produk Industri (Despro). Berambut gondrong dengan pakaian yang serampangan pun seolah menjadi sebuah ciri khas. Beberapa bahkan beranggapan Jurusan Despro bukanlah sebuah jurusan teknik.

Memang, di Despro saya tidak belajar rumus kalkulus, aljabar, dan sebagainya. Namun, menurut saya, kami bukanlah sekumpulan seniman. Kami adalah calon-calon desainer muda Indonesia.

Mungkin orang-orang awam sering beranggapan, seni dan desain adalah sama. Dan memang seniman dan desainer sama-sama bergelut dengan ranak artistik. Namun, tetap saja, seni dan desain memiliki arti yang jauh berbeda satu sama lain.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu dilihat dari segi kehalusan, keindahan, dan sebagainya. Sedangkan desain adalah kerangka bentuk atau rancangan.

Salah satu dosen di jurusan saya berpendapat, perbedaan seni dan desain sangat jelas. Dalam berkarya, seorang seniman mengekspresikan imajinasi pribadinya. Seniman tidak begitu mementingkan apresiasi masyarakat umum terhadap karyanya.

Sebagai gampangnya, ia membuat sesuatu untuk kesenangan dan kepuasan diri sendiri. Apapun kata orang, selama seniman itu puas, tak akan jadi masalah.

Sedangkan seorang desainer membuat suatu karya yang dibutuhkan oleh masyarakat. Karenyanya, ia sangat membutuhkan apresiasi dari masyarakat umum. Desainer pun tidak dapat asal mendesain.

Pada dasarnya, desain adalah sebuat pemecahan dari masalah yang ada. Untuk itulah, para desainer menciptakan inovasi-inovasi baru dalam setiap karyanya.

Seperti orang-orang teknik lainnya, seorang desainer juga perlu melakukan riset yang berkaitan dengan apa yang akan ia desain. Tujuannya, agar karya yang dihasilkan tepat sasaran.

Jauh berbeda dengan jurusan berbasis seni, Despro tidak hanya mementingkan keindahan. Percuma saja mendesain sesuatu yang sangat indah tapi tidak berfungsi. Jika telah memiliki fungsi pun, tidak akan mempunyai nilai jual jika tidak indah.

Dosen-dosen Despro pun sampai sekarang masih sering memberikan pengertian pada kami. Dalam desain, ada benar dan salah. Jadi, jangan heran kalau ada nilai yang bagus dan ada nilai yang jelek.

Di Despro, saya memang tidak terlalu banyak mempelajari hitungan. Tapi bukan berarti saya hanya menggambar, mewarnai, dan seterusnya. Di program studi (prodi) yang saya jalani, saya dituntut untuk dapat membuat sebuah produk.

Tidak hanya berhenti pada sketsa desain, tapi saya bertanggung jawab sampai ke proses pembuatan. Walaupun produk yang saya buat tidak benar-benar diproduksi massal, saya tetap harus memikirkan proses produksinya.

Bagaimana nantinya produk tersebut dapat benar-benar dibuat. Bagaimana mekanismenya, apa bahan yang akan digunakan, sejauh mana tingkat kenyamanannya jika digunakan, dan sebagainya.

Jadi, jangan bilang saya bukan mahasiswa teknik, karena saya pun belajar Fisika Mekanika dan Matematika Geometri. Jangan bilang Jurusan Despro bukan jurusan teknik, karena kami pun mempelajari Gambar Teknik dan Fisika Bangunan.

Sejak Awal Sudah Dapat Dijual
Menurut saya pribadi, Despro memiliki kelebihan dibanding jurusan-jurusan lain. Kebanyakan mata kuliah selalu menuntut setiap mahasiswanya untuk menghasilkan karya-karya nyata. Asyiknya, karya-karya yang awalnya hanya sebagai tugas kuliah itu dapat dijadikan pundi-pundi rupiah.

Pada setiap pameran tugas akhir, tak sedikit karya-karya mahasiswa Despro yang ingin dibeli. Pameran Play! oleh mahasiswa angkatan 2009 prodi Desain Produk, misalnya.

Mengambil tema sepeda untuk anak-anak, pameran yang berlokasi di Balai Pemuda pada 2011 ini ramai didatangai masyarakat umum. Tak sedikit dari mereka yang ingin memiliki sepeda yang dipamerkan disana.

Pameran Duduk oleh prodi Desain Interior pun demikian. Meski masih berlokasi di kawasan kampus ITS, pameran ini berhasil menyita banyak pengunjung yang berdecak kagum menyaksikan desain-desain kursi yang tidak biasa. Lagi-lagi, tak sedikit pengunjung yang tertarik untuk membeli hasil karya mereka.

Sejak semester awal pun, apa yang diajarkan oleh para dosen Despro sebenarnya sudah dapat dijual. Sketsa still life, misalnya. Beberapa teman, bahkan saya sendiri kerap mendapat pesanan untuk menggambar wajah orang. Entah untuk kado, atau untuk koleksi pribadi mereka.

Sebenarnya, Kita Semua Sama
Saya suka kesal, sering kali mendapati mahasiswa bukan Despro meng-under estimate jurusan saya. Beberapa teman sejurusan pun kerap mengutarakan perasaan yang sama.

”Enak ya, Despro kuliahnya nggambar tok (menggambar saja, Red),” komentar seperti ini sering saya dapatkan, bukan hanya dari mahasiswa ITS, bahkan mahasiswa kampus lain acap kali berpendapat sama.

Sebenarnya, kami sama saja dengan kalian. Harus membaca buku, dikejar-kejar deadline tugas, wajib asistensi, praktikum, dan sebagainya. Hanya saja, dalam konteks yang sedikit berbeda.

Untuk prodi Desain Produk, contohnya. Bukan praktikum dengan cairan-cairan kimia atau mikroskop. Mereka membuat model atau miniatur sebuah produk di Laboratorium Prototype/ Model. Prodi Desain Interior membuat maket, Desain Komunikasi Visual (DKV) membuat poster, dan sebagainya.

Kami juga tidak diperbolehkan menyontek. Seperti halnya mahasiswa pada umumnya, kami diwajibkan bekerja dengan kemampuan sendiri. Saya sendiri bingung, kalaupun mau menyontek, apa yang mau dicontek?

Saya yakin, kita semua pasti ahli pada bidangnya masing-masing. Saya menghargai setiap jurusan dengan semua yang mereka pelajari. Dan saya sadar, seorang desainer pun tidak bisa bekerja sendirian.

Desainer mobil butuh seorang ahli mesin untuk merealisasikan desainnya. Begitupun seorang ahli mesin, pasti membutuhkan seorang desainer untuk mendesain body mobil agar menarik dan memiliki daya jual. Sekarang, apa gunanya saling merendahkan? Nantinya, kita semua juga pasti akan saling membutuhkan.

Penulis:
Feny Puspa Sari
Mahasiswa Jurusan Desain Produk Industri angkatan 2010
Institut Teknologi Surabaya